**Survive Lebih dari Setahun di Dekat Gua Hutan Madasari**
Awal mula peristiwa ini terjadi ketika seorang pria kepergok warga sedang mencuri makanan di sebuah warung. Ia langsung ditangkap dan hampir dihakimi massa. Namun, karena rasa iba, warga menahannya dan mencoba bertanya dengan bahasa Sunda, “Nanya tineung”—mengapa ia sering mencuri, apakah karena lapar atau ada alasan lain.
Ia tidak menjawab. Tatapannya kosong dan kebingungan. Setelah beberapa kali diinterogasi, barulah ia mengaku bahwa ia tidak mengerti bahasa Sunda.
Warga kemudian menanyakan asal-usulnya dan alasan mengapa selama lebih dari setahun ia membuat resah masyarakat sekitar Madasari, terutama karena warung-warung di sana sering kehilangan makanan. Dengan menarik napas panjang, ia mengaku berasal dari Sulawesi.
Seketika warga terkejut dan sempat menduga bahwa ia adalah buronan dari daerah asalnya. Namun dengan tenang ia menjelaskan, “Saya bukan DPO. Yang saya curi hanya makanan. Itu pun karena saya lapar. Tidak ada barang lain yang saya ambil.”
Setelah itu ia kembali menarik napas dalam-dalam, seolah masih bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan semuanya. Melihat sikapnya yang terlihat pasrah, emosi warga perlahan berubah menjadi iba.
Akhirnya ia mulai berbicara jujur. Ia mengaku sebenarnya adalah seorang pelajar dari Sulawesi. Ia pernah kuliah, namun tidak lulus karena banyak masalah di tempat perkuliahan. Ia merasa gagal, kecewa, dan terutama malu pulang ke kampung halaman. Ia takut mengecewakan orang tuanya yang telah bersusah payah membiayakan pendidikannya.
Rasa malu itulah yang membuat pikirannya gelap. Ia datang ke Pantai Madasari dengan niat mengakhiri hidup. Ia bahkan sempat berenang jauh ke arah spot pemancingan. Namun di tengah laut, ia berubah pikiran.
“Kalau saya mati, itu terlalu pengecut,” katanya. Pikiran itulah yang membuatnya mengurungkan niat bunuh diri.
Sejak saat itu, ia memilih bertahan hidup tanpa perbekalan apa pun. Ia tinggal di atas tebing dekat sebuah gua yang tersembunyi di kawasan Pantai Madasari—tempat yang jarang dilewati orang.
Awalnya, untuk mengganjal lapar, ia hanya memakan dedaunan seperti daun ubi jalar. Namun semakin lama, tubuhnya tidak kuat hanya dengan itu. Ia pun mulai mencari sisa makanan di tempat sampah, meski sering berakhir muntah.
Hingga suatu hari, saat hujan dan tubuhnya benar-benar kelaparan, ia nekat mencuri pisang. Esoknya, ia mengambil beras, roti, dan makanan lain. Sejak saat itu, mencuri makanan menjadi satu-satunya cara bertahan hidup—dan hal itu berlangsung lebih dari satu tahun.
Ketika warga menasihatinya untuk pulang menemui keluarganya, ia sempat menolak. Rasa malu dan ketakutan masih begitu besar. Namun seorang warga berkata, *“Sebanyak apa pun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan memaafkannya.”*
Perkataan itu mulai meluluhkan hatinya. Ia akhirnya bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan nasihat warga.
Keesokan harinya, warga mengantarnya ke tempat ia tinggal selama ini. Saat melihat kondisi gua dan tebing tempat ia bertahan hidup, mereka terenyuh. Betapa kuat dan sabarnya pria itu, hidup sendiri di tempat yang bisa dibilang menyeramkan selama lebih dari setahun.
Sebelumnya, warga sempat meminta KTP-nya. Saat ia mengeluarkan identitasnya, terlihat pula alat-alat sederhana yang ia gunakan untuk bertahan hidup: botol minuman bekas untuk merebus air, dan sebuah ketel kecil yang katanya ia temukan terdampar di bibir pantai.
Ia juga bercerita bahwa pada malam hari, sering ada ular masuk ke gua dan tidur di dekatnya. Namun ular itu tidak pernah menggigit. Untuk mandi dan buang air, ia selalu pergi ke pantai. Semua itu ia jalani selama lebih dari satu tahun penuh.
Semoga dengan bantuan warga Madasari, ia bisa kembali ke kampung halamannya, bertemu keluarganya, dan mendapat kesempatan baru dalam hidupnya.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita bahwa sesulit apa pun hidup yang kita jalani, selalu ada orang lain yang menghadapi ujian lebih berat—namun tetap bertahan dengan ketabahan luar biasa.
Kabar terakhir, keluarganya telah menjemputnya untuk pulang… 🥲
---

0 Comments: